Di antara dua senyap yang tak pernah bertemu,
aku berdiri seperti bayang yang kehilangan tubuh.
Namamu jatuh di dadaku seperti hujan
yang tak memilih tanah mana harus pulang.
Kau menatapku dengan mata yang ragu,
seolah aku hanya persinggahan dalam rindu yang bukan milikku.
Aku tahu, ada nama lain yang diam-diam kau bawa,
dalam napasmu, dalam langkahmu, dalam luka yang kau jaga.
Dan aku hanya menunggu,
di pinggir hatimu yang tak pernah menoleh pada arahku.
Setiap kali kau menyebut “kita”,
suaramu retak, seperti sedang menghibur diri sendiri juga aku.
Aku memelukmu, tapi dingin itu tak berubah,
seakan ada tangan lain yang lebih dulu kau percaya.
Dan malam-malam panjang ini
menjadi saksi bagaimana aku mencintai seseorang
yang selalu mencari rumah di dada orang lain.
Ketika harus memilih,
mengapa aku yang kau biarkan tetap tinggal,
padahal namanya yang kau jaga di balik semua yang kau bilang?
Aku mencintaimu sampai hatiku kehilangan bentuk,
tapi kau mencintai dia
dengan semua yang tak pernah bisa kulawan.
Dan betapa perih
menjadi pilihan yang tak benar-benar kau pilih.
Aku mencoba menjadi alasanmu bertahan,
tapi kau selalu menatap masa lalu seakan itu masa depan.
Aku menutup celah di dadamu,
namun ada pintu yang tak bisa kututup—
pintu tempat dia masih mengetuk,
dan kau membukanya dengan senyum yang tak pernah kau beri padaku.
Jika cinta ini perjalanan,
aku berjalan sendirian di jalan yang kita beri nama “kita”.
Jika cinta ini cermin,
aku melihat diriku memudar dalam pantulan yang kau sembunyikan.
Aku ingin marah,
tapi aku terlalu mencintaimu untuk melepaskan,
dan terlalu terluka untuk bertahan lebih lama.
Di titik ini, aku sadar:
bukan aku yang kau jaga,
aku hanya yang tidak kau lepaskan.
Ketika harus memilih,
kau membiarkan waktu yang menjawab untukmu,
padahal aku tahu—namanya sudah menang sejak dulu.
Dan aku memaksakan diriku pada ruang
yang tak pernah menyediakan tempat bagiku.
Cinta ini seperti sayap patah
yang tetap mencoba terbang menuju langit yang tak memilihnya.
Bila besok kau pergi,
aku tak akan bertanya lagi.
Karena malam ini aku mengerti:
aku bukan kehilanganmu…
aku hanya berhenti memaksa diriku
menjadi seseorang yang kau pilih
padahal hatimu sejak awal
selalu memilih dia.