Ada hari yang tak dijahit waktu
Di telaga sunyi, langit membasuh dirinya
Tujuh cahaya turun tanpa suara
Kupetik satu senyap dari sinarnya
Selendangmu, harum embun dan rahasia
Kusimpan dalam peti luka yang bersayap
Kau tak tahu bahwa langit telah kucuri
Hanya untuk membungkus rindu yang tak berwujud
Maaf, aku mencintaimu dalam diam
Dengan cara yang tak pernah kau minta
Kini kau menari di dapur tanpa mantra
Karena cintaku mengikatmu dalam lupa
Setiap butir nasi yang tak sempurna
Adalah kutukan atas cinta yang diam-diam
Dan matamu mulai mencium
Langit yang bersembunyi dalam lumbung
Maaf, aku menyayangimu dengan dusta
Tak sanggup kuucap: aku takut kehilangan
Tapi kau temukan langitmu yang patah
Dan aku pun tinggal serpih di tanah
(Petikan kecapi dan seruling lembut, menggambarkan kehampaan di hutan yang ditinggal sang cahaya)
Kau terbang bukan karena benci
Tapi karena kau ingat rumahmu yang abadi
Sementara aku tetap di bumi
Dengan doa-doa yang tak sampai
Jika kau masih dengar desir dedaunan
Itulah namaku mengeja rindumu
Tak ada selendang yang bisa kuanyam lagi
Hanya telaga yang tetap menunggu
Dan langit pun menutup pintunya
Tinggallah bayangmu di udara
Kupanggil namamu dalam hujan
Tapi yang jatuh… hanya sunyi