Aku tak lagi menyebut namamu,
tapi hatiku belum bisa diam.
Rindu ini bukan untuk dipanggil,
melainkan untuk disimpan perlahan.
Ada doa yang tak pernah terucap,
terkubur dalam tatapan kosong malam.
Langit pun tak bisa menerjemahkan,
betapa sepinya kehilangan yang tak dinamai.
Rindu ini tanpa suara,
tapi memekakkan dada.
Tak ada yang tahu,
aku menyebutmu dalam hening yang panjang.
Aku memeluk udara yang tak membalas,
mencari hangat dari kenangan paling pucat.
Bayangmu berjalan perlahan,
lalu hilang, tapi tak pernah pergi.
Jika rindu ini bisa bersuara,
ia akan memanggilmu setiap malam.
Jika sunyi bisa menulis,
namamu takkan pernah selesai kutuliskan.
(Denting piano perlahan,
seperti hujan yang menahan tangisnya sendiri)
Rindu ini tanpa suara,
tapi tetap hidup di setiap napas.
Kamu mungkin lupa,
tapi aku masih diam-diam menunggumu.
Dan bila malam benar-benar sunyi,
aku tahu:
kamu masih tinggal
di tempat yang tak pernah kutinggalkan.