Pagi itu massa datang beriringan
Jalanan penuh suara dan poster tuntutan
Awalnya damai, hanya teriakan dan nyanyian
Semua masih tampak terkendali perlahan
Tiba malam, kobaran menyebar lebih besar
Halte TransJakarta dan pintu tol jadi korban api
Di Makassar, Surabaya, bahkan NTB gedung pemerintahan dirusak
DPRD dibakar, barang publik direnggut tanpa ampun
Apa yang dulu disebut aspirasi
Kini berubah jadi mimpi buruk rakyat sendiri
Bakar halte, bakar citra kota
Menjarah toko, padahal tak ada urusannya
Semangat protes jadi lupa batasnya
Yang terdampak bukan elite, tetapi warga biasa
Surabaya bentrok, pagar ambruk, kendaraan hangus
Sementara di Yogyakarta dan Solo, bangsa minta reformasi selain suara
Namun racun amarah sampai merusak emosi bersama
Tidak hanya gedung pemerintahan, mall, halte, bahkan rumah warga terseret arus amuk
Tak lagi tentang kesetaraan, tapi tentang kekacauan tanpa kendali
Penjarahan di Senen, kios–kios kecil ikut lenyap
Warga pulang bukan dengan harapan, tapi keputusasaan
Mereka yang tak bersuara pun menjadi korban
Bukan karena pilihan, tapi karena mereka di jalur yang salah
Demo ini bukan tentang aksi, tapi tentang kehancuran yang menyedihkan
Bakar halte, bakar citra kota
Menjarah toko, padahal tak ada urusannya
Semangat protes jadi lupa batasnya
Yang terdampak bukan elite, tetapi warga biasa
Kota terbakar, hati semakin kacau
Bukan pembelaan, tapi justru pengkhianatan
Satu tujuan jadi jasad rusak
Demo hilang makna, diganti suara tangisan
Suara boleh keras, tapi jangan sampai melumpuhkan nurani
Perjuangan bukan alasan untuk merusak tempat yang seharusnya dilindungi