Lihatlah biru langit yang kian pudar
Bukan kabut, tapi janji yang terlanggar
Bumi berbisik, memanggil kita sadar
Saat hijau hutan tak lagi menyebar
Di setiap ranting ada cerita lama
Tentang akar yang menahan segala bencana
Tapi tangan kita perlahan merobeknya
Seolah alam ini tak punya suara
Pelan-pelan ia kan membalas
Setiap luka yang kita toreh dengan culas
Sebab alam tak pernah meminta balas
Hanya sekadar kita menjaga dengan ikhlas
Dengarlah senandung dari pohon tua
Jika kau beri kasih, ia kan beri semua
Ia tak meminta emas atau permata
Hanya raga yang tak lagi merusak jiwa
Kembalilah, pada bahasa sunyi ini
Pada hijau yang memberi kita nafas
Sebab ia cermin dari nurani
Jika kita baik, alam takkan pernah terlepas
Kita hirup udara dari paru-parunya
Kita minum air dari mata airnya
Mengapa kita balas dengan angkara
Melupakan bahwa kita hanya tamu saja?
Anak cucu takkan kenal sejuknya pagi
Jika hutan hanya tinggal nama di hati
Mereka akan mencari pelangi
Di langit yang telah kita kotori
Pelan-pelan ia kan membalas
Setiap luka yang kita toreh dengan culas
Sebab alam tak pernah meminta balas
Hanya sekadar kita menjaga dengan ikhlas
Dengarlah senandung dari pohon tua
Jika kau beri kasih, ia kan beri semua
Ia tak meminta emas atau permata
Hanya raga yang tak lagi merusak jiwa
Kembalilah, pada bahasa sunyi ini
Pada hijau yang memberi kita nafas
Sebab ia cermin dari nurani
Jika kita baik, alam takkan pernah terlepas
Tiada guna kita bicara tentang cinta
Jika rumah yang memberi kita hidup, kita binasa
Satu sentuhan lembut, satu janji suci
Mulai hari ini, marilah kita hargai...
Dengarlah senandung dari pohon tua
Jika kau beri kasih, ia kan beri semua
Ia tak meminta emas atau permata...
Hanya raga yang menjaga...
Alam pun kan menjaga kita...