Halo yang tertinggal di jam dua malam,
Sinyal patah-patah bagai hujan deras niatnya tegar seperti akar pohon.
Kau bisik, “Tunggu aku di peron stasiun yang sepi,”
Aku jawab, “Bawa cerita lucu, biar malam tak lagi sunyi.”
Nada tunggu berubah jadi melodi lembut,
Kita saling isi kekosongan hati yang hampa.
Janji di telepon, bukan sekadar gema kosong,
Besok kita bertemu tak perlu lagi janji yang rapuh.
Kalau dunia berisik seperti badai mengamuk, aku kabari,
Lewat lagu kecil yang kita nyanyikan penuh keyakinan abadi.
Sticker hati meledak di layar chat seperti kembang api malam,
Kita tertawa seakan lelah hanyalah mimpi yang pudar.
Di balik layar dingin ada rindu yang jujur, tenang mengalir,
Tak sempurna seperti lukisan retak, tapi teguh lurus garis takdir.
Nada tunggu berubah jadi melodi lembut,
Kita saling isi kekosongan hati yang hampa.
Janji di telepon, bukan sekadar gema kosong,
Besok kita bertemu tak perlu lagi janji yang rapuh.
Kalau dunia berisik seperti badai mengamuk, aku kabari,
Lewat lagu kecil yang kita nyanyikan penuh keyakinan abadi.
Matikan layar yang membatasi, nyalakan tatap mata yang hangat,
Janji paling manis bukan kata tapi sikap setia seperti bintang malam.
Kalau ragu datang memukul, tarik napas kita pulihkan,
Biarlah tenang menyusun kata hingga pagi memutihkan.
Kau: “Halo, kamu masih di sana?”
Aku: “Masih dengar detakmu di antara hujan.”
Kau: “Besok jam berapa?”
Aku: “Jam yang sama tapi kita bertemu, bukan telepon.”
Janji di telepon, bukan sekadar gema kosong,
Besok kita bertemu tak perlu lagi janji yang rapuh.
Kalau dunia berisik seperti badai mengamuk, aku kabari,
Lewat lagu kecil yang kita nyanyikan penuh keyakinan abadi.
Di akhir panggilan, rindu ini tetap menyala,
Menanti pertemuan di mana hati kita akhirnya bersatu.
Janji di telepon…