Seribu sembilan ratus empat lima
Indonesia merdeka, penjajah pergi
Mereka diusir, pulang ke negerinya
Tapi para penghianat ikut lari
Londo ireng lari bersama majikan
Meninggalkan tanah tumpah darah
Di negeri asing mereka beranak-pinak
Hidup mewah, lupa asal-usulnya
Sementara rakyat membangun negeri
Dari puing, darah, dan air mata
Bukan demi nama, bukan demi pujian
Tapi untuk anak cucu yang belum dilahirkan
Kini negeri mulai bangkit perlahan
Tapi sejarah mulai dibalik dengan mudah
Yang lari dielu-elukan
Yang setia dilupakan
Pengkhianat bangsa disambut jadi pahlawan
Yang pergi dulu, kini jadi panutan
Pecundang masa lalu jadi ikon
Negeri ini lupa siapa musuh dan kawan
Hei, ingatlah wahai rakyat!
Siapa yang mati demi tanah ini?
Jangan biarkan negeri dijajah lagi
Oleh keturunan pengkhianat yang dulu lari!
Pengkhianat bangsa disambut jadi pahlawan
Yang berdarah justru dilupakan
Pengkhianat bangsa disambut jadi pahlawan
Pejuang sejati dikubur tanpa tanda
Kini anak cucu londo ireng dipanggil pulang
Diberi gelar, diberi panggung kehormatan
Dengan dalih diaspora dan naturalisasi
Tapi benarkah itu demi negeri ini?
Mereka kabur demi diri sendiri
Kini kembali disambut bak dewa negeri
Pejuang sejati tinggal cerita
Pengkhianat tampil di layar kaca
Hei negeri, apa kabarmu hari ini?
Di mana logikamu, di mana nurani?
Jangan biarkan anak cucumu bertanya:
“Kenapa pahlawan sejati dilupakan…
Dan pengkhianat dijadikan panutan?”