“Di halaman Boedoet 7,
jejak langkahmu masih membekas,
seragam putih basah oleh hujan,
namamu hilang di antara gerimis.”
“Lorong panjang menyimpan suara,
papan tulis tua retak oleh waktu,
aku mencari bayanganmu di koridor,
namun hanya sepi yang menjawab.”
“Boedoet 7, jejak yang tertinggal,
di dinding sekolah, di lorong kenangan,
kau berlalu tanpa salam terakhir,
tinggal rindu yang tak pernah padam.”
“Gerbang tua berderit tertutup,
buku catatan basah terbuka sia-sia,
namamu tergores di sampul lusuh,
tapi suaramu tak pernah kembali.”
“Aku menulis angka tujuh di hatiku,
seperti alamat yang tak pernah berubah,
Boedoet 7 tetap di sana,
menyimpan rindu yang tak pernah usai.”
“Boedoet 7, jejak yang tertinggal,
di dinding sekolah, di lorong kenangan,
kau berlalu tanpa salam terakhir,
tinggal rindu yang tak pernah padam.”