Di Bawah Kendali
>Duduk seperti seorang, yang tak diburu waktu.
Tubuh tegak, seolah garis samar menarik ke langit biru,
Bahunya jatuh lembut, membiarkan dunia tahu,
Bahwa ia hadir tanpa beban yang membuat terbelenggu.
>Kaki terbuka sedikit, sekadar untuk menegaskan,
Bahwa ruang di sekitarnya bukanlah untuk di rebutkan,
Melainkan sesuatu yang dengan alami,
Keberadaannya otomatis diakui..
>Tangan diam, tidak mencari-cari tempat untuk singgah,
Tidak ragu, tidak pernah merasakan resah,
>Jemarinya mengirim pesan yang tak perlu diterjemahkan:
Ia tidak dipaksa, tapi ia yang memilih sendiri ketenangan.
Tak banyak gerak, karena orang yang mengenalnya merasakan,
Tak membutuhkan koreografi untuk menunjukkan keyakinan.
Setiap gestur sederhana, lahir dari kesadaran,
Seperti ombak yang tahu harus datang dan berhenti kapan.
>Ada sesuatu dalam caranya duduk,
Sesuatu yang tidak keras terbentuk,
Namun tak bisa diabaikan.
Kendali bukan berupa ancaman,
>Tapi ia akan membuat ruangan,
Yang ritmenya telah disesuaikan,
Seolah ia membawa ketenangan
yang tidak bisa dibeli,
Dan tidak bisa direbut—hanya bisa dimiliki,
>Tangan diam, tidak mencari-cari
Oleh mereka yang sudah berdamai diri
>Jemarinya mengirim pesan yang tak perlu diterjemahkan:
Ia tidak dipaksa, tapi ia yang memilih sendiri ketenangan.
Tak banyak gerak, karena orang yang mengenalnya merasakan,
Tak membutuhkan koreografi untuk menunjukkan keyakinan.
Setiap gestur sederhana, lahir dari kesadaran,
Seperti ombak yang tahu harus datang dan berhenti kapan.
>Jemarinya mengirim pesan yang tak perlu diterjemahkan:
Ia tidak dipaksa, tapi ia yang memilih sendiri ketenangan.
Tak banyak gerak, karena orang yang mengenalnya merasakan,
Tak membutuhkan koreografi untuk menunjukkan keyakinan.
Setiap gestur sederhana, lahir dari kesadaran,
Seperti ombak yang tahu harus datang dan berhenti kapan.
>Jemari diri...
Karena ketenangan dia yang punya kendali,
Di bawah kendali...