Di layar biru, kau hadir perlahan
Tak ada nama, hanya kata yang menenangkan
Kita bicara seolah kenal lama
Tapi tak pernah tahu, siapa di balik tawa
Kau tanya tentang senja, aku jawab dengan rindu
Kau kirim puisi, aku balas dengan kalbu
Malam-malam menjadi lebih sunyi dan hangat
Kita saling menggenggam, tanpa jemari yang lekat
Kekasih bayangan, hadir di tiap malam
Dalam huruf dan tanda baca yang diam
Kita jatuh cinta pada cerita dan imajinasi
Pada sosok yang hanya hidup dalam ilusi
Tak kutahu wajahmu, tak kau tahu lukaku
Tapi kita bicara seperti tak ada ragu
Kau bilang aku rumah, aku bilang kau langit
Tapi rumah dan langit tak pernah bisa bersatu di titik
Kita lukis harapan tanpa kuas nyata
Menganyam masa depan di ruang maya
Kau menyebutku sayang, aku pun membalas
Tapi siapa yang kita cinta, hati atau alas?
Kekasih bayangan, di ujung sinyal yang tenang
Kita saling mengerti tapi tak pernah datang
Cinta ini nyata, meski tak bernyawa
Hanya bayangan yang hidup di kepala
Apakah kau juga merindukan seseorang
Yang mungkin bukan aku, tapi imajinasi yang kau bangun?
Apakah aku jatuh pada dirimu
Atau pada tokoh khayalku yang menyerupaimu?
Suatu hari nanti, bila dunia mempertemukan
Akankah kita masih jatuh cinta pada kenyataan?
Atau semua ini hanya indah karena tak nyata
Karena kau sempurna dalam rahasia?
Kekasih bayangan, tak tersentuh tapi terasa
Dalam percakapan yang menutup luka
Kita mungkin asing di dunia nyata
Tapi di dunia maya, kau adalah segalanya
Kita bukan dua insan yang saling memandang
Hanya dua bayangan yang saling menenang
Tak pernah tahu rupa, tak pernah tahu luka
Tapi mencinta, seolah nyata…
…hingga kata pun tak lagi mampu menyimpan rasa.