Menarilah, menarilah, lentera menyala
Di dalam lingkar senyum membara
Terbakar perlahan, tak ada yang sadar
Menarilah, menarilah, selamanya
Bayangan labu menjahit wajahku
Topeng bulan tanpa berat dan ragu
Api bersinar janji yang kosong
Langkah seirama, suara pun hilang
Menarilah, menarilah, lentera menyala
Di dalam lingkar senyum membara
Terbakar perlahan, tak ada yang sadar
Menarilah, menarilah, selamanya
Yang terjatuh tak pernah kembali
Angin dingin hapuskan nama diri
Semakin serupa satu bentuk saja
Hati berubah menjadi abu belaka
Menarilah, menarilah, lentera menyala
Di dalam lingkar senyum membara
Terbakar perlahan, tak ada yang sadar
Menarilah, menarilah, selamanya
Di balik topeng, air mata mati
Percikan api makan mimpi ini
“Muka lain tak pernah ada,” mereka bilang
Barisan api oranye pun terulang
Lentera tertawa, terus membakar
Tak satu pun luput, tak bisa pulang
Tak ada yang tahu wajah sejati
Lingkaran ini… tak pernah mati