Di negeri jauh, penuh dongeng dan drama
Semua masih utuh — ya, katanya tak ada yang hilang
Emas tetap di lemari besi
Tanah tetap di tempati
Tak ada yang hilang, maka tak perlu dicari
Sebab kehilangan adalah fitnah bagi yang duduk tinggi
Di kota penuh rapat yang tak pernah dimulai
Semua bicara, tapi tak satu pun bersuara
Harta menguap seperti embun di pagi hari
Tapi pagi di sini tak pernah datang pasti
Semua tertulis, semua sah
Asal disahkan oleh pena yang berkilau mewah
Di balik tirai, ada tumpukan janji
Dilipat rapi seperti taplak makan siang menteri
Mari kita rayakan kehilangan yang tak diakui
Sebab mengakui, artinya harus mencari
Dan mencari, artinya harus menyerahkan
Sesuatu yang sempat dicicipi tanpa izin Tuhan
Setiap rumah punya cerita
Tapi di sini, cerita bukan untuk dibaca
Melainkan ditunda, disortir, disimpan
Lalu dikubur di lemari berkode rahasia negara resmi
Mereka berkata:
“Apa yang tak tercatat, tak perlu dicabut”
Dan kami pun belajar
Bahwa keadilan adalah wacana paling sopan untuk dilupakan
Mari kita rayakan kehilangan yang tak diakui
Sebab mengakui, artinya harus mencari
Dan mencari, artinya harus menyerahkan
Sesuatu yang sempat dicicipi tanpa izin Tuhan
Berapa bangunan dari keringat yang lenyap?
Berapa lembar hening di balik tanda tangan basah?
Kursi rapat sudah berdebu
Tapi tak ada yang bersin — karena tak ada yang masuk
Tak ada yang hilang, tak ada yang dicuri
Semua masih milik negeri
Yang lupa cara mencatat...
Tapi sangat pandai menyimpan
Negeri kami tak pernah kehilangan
Hanya saja, kami tak pernah mencatat
Apa yang pernah kami temukan
Akan Kami simpan
Mari kita rayakan kehilangan yang tak diakui
Sebab mengakui, artinya harus mencari
Dan mencari, artinya harus menyerahkan
Sesuatu yang sempat dicicip tanpa izin Tuhan