Sekilas tawamu, terasa hangat,
Di tengah malam, suara sirine yang mengusik,
Kau menghilang ke dalam pelukan nya,
Sirna sudah, cinta kini jadi racun yang menyakiti.
Kau terbang, meraih emas yang tidak pernah ku miliki,
Sementara aku terpenjara dalam kesunyian,
Satu pelukanmu, kini kian pelik,
Menghapus semua rasa tanpa alasan.
Aku tersenyum saat kau datang,
Tapi dalam hati, aku menahan tangis,
Rahasia cinta yang bersarang,
Kini tinggal bayang-bayang di antara mimpi yang tiada henti.
Sekilas tawamu, terasa hangat,
Di tengah malam, suara sirine yang mengusik,
Kau menghilang ke dalam pelukan nya,
Sirna sudah, cinta kini jadi racun yang menyakiti.
Kau terbang, meraih emas yang tidak pernah ku miliki,
Sementara aku terpenjara dalam kesunyian,
Satu pelukanmu, kini kian pelik,
Menghapus semua rasa tanpa alasan.
Aku tersenyum saat kau datang,
Tapi dalam hati, aku menahan tangis,
Rahasia cinta yang bersarang,
Kini tinggal bayang-bayang di antara mimpi yang tiada henti.
Kau terbang, meraih emas yang tidak pernah ku miliki,
Sementara aku terpenjara dalam kesunyian,
Satu pelukanmu, kini kian pelik,
Menghapus semua rasa tanpa alasan.
Aku tersenyum saat kau datang,
Tapi dalam hati, aku menahan tangis,
Rahasia cinta yang bersarang,
Kini tinggal bayang-bayang di antara mimpi yang tiada henti.
Ketika semua senyumku menjadi debu,
Walau dalam gelap, aku masih menginginkan mu,
Cinta yang hancur, kini menjadi pilu.