Kau bagai senja di ufuk jingga,
Indah namun tak sempat kurasa.
Aku hujan di musim yang salah,
Datang terlambat, hilang tak bersisa.
Kau tersenyum pada langit yang biru,
Tapi matamu tak pernah ke arahku.
Aku mencintaimu dalam sunyi yang panjang,
Dalam tiap doa yang tak terucap terang.
Kau bunga yang mekar di taman orang lain,
Dan aku hanyalah bayang yang tak sempat singgah main.
Langkahmu jadi lagu di pikiranku,
Nada lembut yang tak bisa kupadu.
Kata “mungkin” jadi luka yang manis,
Kudekap meski tak pernah habis.
Andai waktu mau berbaik hati,
Ku ulang detik pertama bertemu lagi.
Tak semua rasa harus tiba,
Beberapa lahir hanya untuk hampa.
Meski tak pernah jadi kita,
Namamu tetap jadi doa di dada.
Kau adalah puisi yang tak selesai kutulis,
Namun setiap baitnya… masih terasa manis.