Di tikungan malam, rambu berkedip-kedip
Namamu di kaca, kabut tipis-tipis
Langkahku pelan, hati jatuh berkali-kali
Jakarta berbisik, “pulanglah sendiri”
Tapi nada kamu berbisik di telinga
Seolah hujan nyusun melodi kita
Lampu kota menyimpan namamu
Nyalanya serasa ingin aku bertemu
menyanyikan lagu lama kita berdua
rasanya masih sama juga
Toko tutup, tapi kenangan buka
Kopi tinggal dingin, rinduku yang luka
Kamu bilang esok, aku tunggu sorenya
Sampai senja habis, suara masih sama
Dan nada kamu berbisik di telinga
Seolah hujan menyusun melodi kita
Lampu kota menyimpan namamu
Nyalanya serasa ingin aku bertemu
menyanyikan lagu lama kita berdua
rasanya masih sama juga
O-oh, Jakarta—jalan pulang sepi
Bisik pelan: “pulanglah sendiri”
Tapi di dada, lagu tak berhenti
Aku hafal peta retak trotoar
Langkahmu dulu jadi penunjuk arah
Kalau besok datang tanpa kabar
Aku tetap simpan suaramu di jarak
Kalau ragu datang, biar aku yang reda
Kamu tetap jadi bait paling muda
Lampu kota menyimpan namamu
Nyalanya serasa ingin aku bertemu
menyanyikan lagu lama kita berdua
rasanya masih sama juga
Kalau besok datang terlambat
Aku titipkan rindu di lampu-lampu padat
Kalau kata habis di tenggorok malam
Biarkan tatap kita jadi salam
(“Na-na-na…” sing along 2×, tepuk tangan/claps menyatu dengan hi-hat)
Aku dan kamu—dua bayang di aspal yang basah
Canda kecil tumbuh jadi tawa
Hitung sampai tiga—tarik nafas lagi
Kita tulis cerita di sini
Lampu kota menyimpan namamu
Nyalanya serasa ingin aku bertemu
menyanyikan lagu lama kita berdua
rasanya masih sama juga
Lampu kota menyimpan namamu
Nyalanya serasa ingin aku bertemu
Kalau pun pulang harus sendiri
Di lagu ini kamu tetap menemani
Jakarta pelan meredup di pagi
Bisik terakhir: “pulanglah sendiri”
Tapi di hati—kamu masih bernyanyi
Sampai sunyi—tak terasa sunyi