Langit menyulam sunyi dengan benang tak terlihat
Bintang-bintang patah, jatuh dalam diam
Kau pernah jadi cahaya di mataku yang buram
Kini hanya bayang, kabur dan tenggelam
Warna malam tak lagi hitam
Ia mencuri biru, membawa abu
Di cermin rindu, wajahmu terbelah dua
Separuh menjauh, separuh membeku
Denting malam berwarna
Mengalun dalam nada yang tak kupahami
Setiap suara memanggil namamu
Namun tak satu pun sampai padamu
Aku menulis namamu di kaca yang mengembun
Tapi embun pun takut mengingatmu
Bayangmu melangkah di antara sela napas
Sementara aku diam—menyimak yang tak terdengar
Ada getar yang lahir dari luka
Tak terlihat, tapi tumbuh seperti waktu
Denting malam berwarna
Melukis senyap dengan tinta luka
Langit tak lagi bicara
Tapi aku tahu... kau masih di antara sunyinya
Jika malam bisa bicara, ia akan menyebut namamu
Jika sepi bisa bernapas, ia akan memakai rindu yang kugenggam
Tapi tak ada yang kembali
Tak ada yang pulang
Denting malam berwarna
Adalah kau yang kupeluk dalam khayal
Setiap bunyi membawa kenangan
Dan aku diam-diam—masih memanggilmu
...dan malam pun diam,
tapi tak pernah kosong darimu.